Text
Potensi SQ, EQ, dan IQ di Balik Ayat-ayat al-Faatihah / Mustamir Pedak
Judul : Potensi SQ, EQ, dan IQ di Balik Ayat-ayat al-Faatihah
Penulis : Mustamir Pedak
Edisi : Cetakan 1
Penerbit : Diva Press
Deskripsi Fisik : 301 hlm.; 20 cm.
ISBN : 9789799636454
Abstrak Informatif :
Visi dari surat al-Fatihah adalah mengajarkan manusia agar hidup bersama Allah Swt. Ini merupakan semangat hikmah ayat 1 surat al-Fatihah, yaitu "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang", yang dijabarkan dalam ayat-ayat berikutnya. Basmalah adalah suatu visi yang harus kita pegang teguh, dan bertindak sebagai poros hidup.
Supaya kita bisa hidup bersama dengan Allah, maka kita harus mengenal-Nya dengan baik. Mengenal Allah, tidak berarti mengenal kepribadian-Nya, karena Dia Maha Tak Terbatas, sehingga kita tidak mungkin mengenal kepribadian-Nya. Sesungguhnya, untuk mengenal Allah Swt, kita harus memahami kebesaran dan keagungan-Nya. Inilah yang terkandung dalam ayat 2 surat al-Fatihah, yaitu "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Selain itu kita juga diajarkan untuk mengenal cinta-Nya. Dia-lah sang Maha Cinta yang kasih sayang-Nya tidak berbatas. Itulah yang termaktub dalam ayat 3 surat al-Fatihah yaitu "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang". Selanjutnya kita harus memahami kekuasaan-Nya, sebagaimana yang terkandung dalam ayat 4 surat al-Fatihah.
Agar kita mampu mengenal Allah Swt. dengan baik, kita harus mengenal makhluk-Nya. Dengan mengenali kebesaran-Nya, kita bisa memahami kekerdilan kita. Jika kita mengenali kekuatan-Nya, kita dapat mengetahui segala kelemahan diri. Itulah yang diajarkan oleh ayat 5 surat al-Fatihah, yaitu "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan." Jadi ayat 2 dan 5 tersebut terkait satu sama lain. Kedua ayat ini mengajarkan tentang kecerdasan spiritual, yaitu upaya mengenal diri sebagai syarat untuk mengenal Allah Swt.
Untuk memahami cinta-Nya, kita harus bergaul dengan sesama manusia. Ketika bergaul, kita dididik agar saling mencintai, sebab tanpa cinta, silaturahmi tidak akan terbina. Ayat 7 surat al-Fatihah, "(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula) jalan mereka yang sesat," menyeru kepada kita supaya bergaul dengan sesama manusia. Jadi ayat 3 dan 7 saling berkaitan. Kedua ayat tersebut mengajarkan tentang kecerdasan emosional, karena kita senantiasa melibatkan emosi dalam bergaul. Oleh sebab itu, kita harus pandai mengelola emosi agar pergaulan kita berdampak positif bagi diri sendiri dan orang lain.
Memahami kekuasaan Allah tidaklah mudah, untuk mewujudkannya kita harus mampu mengambil hikmah dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Hal ini disandarkan pada ayat 6 surat al-Fatihah, yakni "Tunjukilah kami jalan yang lurus." Sesungguhnya petunjuk atau hidayat Allah tidak datang dengan sendirinya. Petunjuk tersebut harus ditelusuri dari hukum-hukum alam yang berlaku di alam semesta. Di dalamnya, kita banyak memperoleh pelajaran demi mendapatkan petunjuk-Nya. Untuk memahami alam semesta, kita dianugrahi otak untuk berfikir. Jadi ayat 4 dan 6 memiliki kaitan yang sangat erat, kedua ayat itu menerangkan tentang kecerdasan intelektual, karena kita membutuhkan objektifitas yang tinggi untuk memahami segala sesuatu yang ada di alam semesta.
Kata Kunci : Tafsir al-Fatihah, Mufassir, Kecerdasan Spiritual (SQ).
Buku ini sudah disunting dengan perbaikan mencakup nama pengarang, pernyataan tanggung jawab, edisi, data koleksi eksemplar, deskripsi fisik, klasifikasi, nomor panggil, tajuk subjek dan gambar sampul.
Tidak tersedia versi lain