Text
Metodologi Ilmu Tafsir / M. Alfatih Suryadilaga
Judul : Metodologi Ilmu Tafsir
Penulis : M. Alfatih Suryadilaga
Edisi : Cetakan 3
Penerbit : Teras
Deskripsi Fisik : 199 hlm.; 21 cm.
ISBN : 9799799781757
Abstrak Informatif :
Secara faktual, al-Qur'an adalah kumpulan teks yang tidak sistematis. Ia memang bukan kitab ilmiah sebagaimana yang diangankan manusia-manusia zaman sekarang. Sebab, pada waktu itu tatanan wacana (order of discourse) tidak seperti yang dijumpai pada era modern. Itulah mengapa al-Qur'an menjadi kitab suci yang menuntut pemahaman dan penafsiran secara serius dan mendalam. Tanpa itu, teks yang satu ini tetap menjadi teks mati yang tak bisa bicara untuk selama-lamanya.
Dalam peta pemikiran Islam, aktivitas yang menandai geliat intelektual dan dinamika pemikiran Islam adalah kata tafsir, bentuk mashdar dari kata fassara, yang berarti menuraikan dan menjelaskan segala sesuatu yang dikandung al-Qur'an. Tidak ada istilah atau terma dalam Islam yang cukup bisa menjelaskan proses penalaran yang produktif dalam Islam selain kata tafsir. Tafsir dalam pengertiannya yang lebih luas, adalah dialog antara teks al-Qur'an yang memuat cakrawala makna di dalamnya, dengan horizon pengetahuan manusia dan dinamika yang tidak pernah berhenti. Dengan demikian, kekayaan dan signifikansi teks al-Qur'an sangat tergantung pada capaian-capaian pengetahuan sang mufassir. Semakin tinggi pengetahuan dan keilmuan mufassir, makin beragam dan signifikan pula makna yang dihasilkan. Sehingga diperlukan perangkat metodologi penafsiran yang berfungsi mengarahkan (bukan menentukan) penafsiran.
Asumsi dimunculkannya perangkat metodologi penafsiran ini jelas, yakni agar interpretasi tidak terjebak pada kepicikan, oprtunis, dan hal negatif lainnya. Selain itu, interpretasi juga menyangkut hal yang sangat prinsip dalam agama. Konsepsi-konsepsi keagamaan, baik yang terkait dengan tauhid, keimanan, akhlaq, dan hukum semuanya bersumber dari interpretasi, hasil dialog teks dengan pembacanya. Teks tidak bisa melahirkan konsepsi-konsepsi keagamaan dengan sendirinya. Ia membutuhkan pembaca cerdas yang bisa mengartikulasikan makna dan nilai yang terkandung di dalam teks. Dan agar konsepsi keagamaan tersebut tidak terjebak pada nafsu buas manusia, baik yang disengaja maupun tidak, maka dibutuhkan perangkat metodologi penafsiran yang bisa membimbing dan mengarahkan penafsiran. Disinilah letak urgensi buku metodologi tafsir ini.
Buku ini dalam pembahasannya dibagi menjadi 12 bab yang mencakup bab 1 tafsir : pengertian dasar dan urgensinya; bab 2 konsep-konsep dasar metodologi tafsir; bab 3 kaidah-kaidah tafsir; bab 4 teknis analisis tafsir; bab 5 teknik interpretasi dalam penafsiran; bab 6 sumber-sumber tafsir; bab 7 objek tafsir; bab 8 ma'ani al-Qur'an; bab 9 pendekatan kajian tafsir; bab 10 metode penulisan; bab 11 proposal penelitian tafsir dan pembahasan ditutup pada bab 12 laporan penelitian.
Kata Kunci : Tafsir al-Qur'an, Mufassir, Metode Tafsir.
Buku ini sudah disunting dengan perbaikan mencakup nama pengarang, pernyataan tanggung jawab, edisi, data koleksi eksemplar, ISBN, klasifikasi, nomor panggil dan tajuk subjek.
Tidak tersedia versi lain